Senin, 12 Desember 2011

Pendidikan dan “Guru” Ujung Tombak Pemerdekaan Insani Papau


Hasil diskusi Iyoo/ Ihoo, 27 Agustus 2011, di Kontrakan Dogiyai, Jogja.

Pendidikan dan “Guru” adalah ujung tombak pemerdekaan insani Papua. Insani dalam tulisan ini dimaknai sebagai manusia. Oleh karena itu, pendidikan di Papua harus berjalan sesuai tujuan pendidikan yaitu, memanusiakan menusia lain, atau membebaskan masyarakat dari kebodohan, ketertinggalan, dan keterbelakangan. Lalu Guru harus yang berparan penting dalam memerdekakan insani Papua. Perlu di pahami bahwa “guru” dalam tulisan ini bermakna luas. Tidak guru sebagai pendidik, tetapi orang yang berperan penting membangun Indonesia pada umumnya dan Khusus Papua.

Pendidikan dan guru adalah ujung tombak pemerdekaan insani Papua, lalu adakah orang papua yang betul-betul menjadi guru di negerinya atau tidak?, kita harus menghilangkan namanya kerja karena mau mendapatkan upah yang besar, karena itu akan terciptanya, orang rakusnya kekuasaan dan kekayaan, orang Papua dengan sendirinya bisa “ Merdeka” Oce.

Pendidikan dan guru adalah ujung tombak pemerdakaan insani Papua. Oleh karena itu, pendididikan dan guru harus diperdayakan, Tetapi masalah pendidikan dan guru di Papua sangat rumit karena Papua harus di bangun dari keacuran. Untuk menjalankan tujuan utama daripada pendidikan yaitu, memanusiakan manusia lain, membebaskan masyarakat dari ketertingalan, dan kebodohan, dan “Guru” sebagai pendidik dan guru dipemerintah, gereja, dan perusahan-perusahan harus memunyai jiwa membangun. Alfridus mahasiswa sismester III AMIKOM Jogja.

Senada juga di utarakan oleh Delpian Iyowau bahwa, Pendidikan merupakan lembaga yang menangani bagian memanusiakan manusia lain, sedangkan aktor yang berperan dalam harus memunyai jiwa “guru”. Karena, berbicara menganai pemerdekaan insani Papua itu hal gampang tetapi perakteknya di tanah Papua sangat susah. Mengapa sangat susah? Karena pandangan orang asli Papua beda dengan orang luar Papua. Salah satu contoh, yang biasa dilihat oleh orang luar Papua adalah perbedaan pada fisik tetapi di sini saya melihat, perbedaan sisi budaya dan cara-cara lain dalam kehidupan seharian.



Orang Papua harus pemberdayaan masyarakat Papua, di pelbagai bidang terutama bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Untuk memperdayakan itu yang sangat di pentingkan adalah mutuh pendidikan dan mutu “guru”. Oleh jarena itu, peran gereja, pemerintah, dan perusahan-perusahan besar di Papua sangat dibutuhkan. Berbicara masalah pemerdekaan insani Papua. Sesuai budaya yang ada di Papua mencipkan SDM Papua yang cerdas dan punya Moral. Agar mereka dapat orang Papua bukan kekayaan alam Papua. Kita juga harus melaksanakan kerja sama dengan orang lain yang sepandangan dengan kita. Beneditus Degei, mahasiswa APMD, Alumi SMA Adhi Luhur Nabire.

Delpian membenarkan bahwa untuk pemerdekaan insani Papua insani Papau kami membutuhkan paran gereja dan pemrintah, aktor gereja yaitu, pendeta, Pastor dan lain-lain. Disini mereka tidak berperan penting karena banyak terjadi diskriminasi dalam dunia pendidikan. Pemerintah pun tidak memperdayakan masyarakat Papua karena, yang ada di pemrintahan ini sudah di doktrin dengan budaya luar. Jadi, intinya mereka mempemainkan kita bukan di bidang pendidikan saja tetapi, di berbagai bidang. Oleh sabab itu, harus orang Papua asli yang memunyai hati untuk Papua yang membangun Papua, agar orang Papua bisa menjadi tuan di atas negerinya sendiri.

Untuk orang tua mememunyai peran penting untuk membentuk karakter anak selain itu pemerintah harus bekerja sama dengan gereja untuk membangun pendidikan berpola asrama, yang sudah dibangun oleh para misionaris dahulu, tetapi yang harus di utamakan adalah mutuhnya yaitu, “Guru” yang berada di semua bidang itu. Kita harus bisa manadiri jangan selalu pemerintah pusat [ baca: Jakarta] yang mengendalikan, atau mengerakan. Pungkas Alfridus

Melengkapi pernyataan di atas, selain mutuh pendidikan dan “guru” masalah fasilitas sekolah harus dibuat sedemikian rupa untuk menciptakan pemerdakaan insani Papua. Karena selama ini di Papua tidak diperhatikan dengan baik, selain itu penempatan dalam kinerja birokrasi keliru, lalu pemekaran yang menjadi kesejateraan itu tidak terlaksana. Ungkap Maikel Tekege Lanjut pendidikan juga kadang menjadi mahal di tanah Papua, itu tidak mencapai tujuan utama daripada pendidikan itu sendiri.


Memang banyak masalah yang sudah terjadi tanah Papua, dan mereka disini mengangapi sisi mengekspoloitasi kekayaan alam, oleh orang laur, dari Papua. Kita tidak bodoh tetapi kita tidak memunyai kesempatan saja, kita di beda ideologi juga menunjukan. Kita harus pulang melakukan sesuatu berdasarkan pendidikan yang kita tempuh. Selpianus Adii.

Kesimpulan dari diskusi diatas adalah, kita sebagai mahasiswa atau singkat kata para intelektual Papua harus menyadari akan masalah yang sudah,sedang, dan akan terjadi tanah terluka Papua. Melawan sistem yang sudah di bangun olah pemerintah pusat karena kita sudah ada dalam erah Otsus, mengoreksi pribadi kita kita akan pulang melakukan apa? Harus membuat satu konsep [rencana] untuk pembangunan Papua kedepan, berdoa dan bekerja karena tidak ada harapan orang luar Papua yang akan membangun karena yang akan membangun adalah orang Papua yang punya hati untuk Papua menuju kemerdakaan insan Papua. Agus Dogomo

0 komentar:

Posting Komentar