Rabu, 28 November 2012

Bersatu Untuk Menaklukan Musuh di Papua



Oleh: Abraham Goo

“Bersatu kita menang, bercerai kita kalah” ungkapan ini tidak lazim lagi buat kita semua. Persatuan merupakan satu hal utama dalam menaklukan sesuatu. Persatuann yang dimaksud adalah pikiran dan hati setiap individu. Dalam menjaling persatuan dan kesatuan membutuhkan  pengertian dan saling melengkapi, karena manusia pada hakekatnya, mahkluk sosial.  
Read more »

Senin, 12 November 2012

Pemekaran dan Kepentingan Segilintir Orang di Papua


Oleh: Abraham Goo*)

Pemekaran wilayah di era reformasi memunyai tujuan untuk membangun daerah –daerah terisolasi, agar tersentuh akan pembangunan secara fisik dan non-fisik untuk menuju kesejateraan rakyat. Tetapi tujuan itu belum nampak karena pemekaran yang terjadi didasari pada rasa ketidakpuasan  segilitir orang yang tidak  memenangkan satu pesta demokrasi, gila jabatan, dan orang-orang memunyai ambisi yang besar.

Padahal, tujuan pemekaran  untuk mengatasi masalah kesenjangan pembangunan secara fisik dan non-fisik. Selain itu pemekaran dibuka karena  memunyai wilayah yang laus tidak dapat dijankau oleh pembangunan, meningkatkan pendapatan masayarakat, membuka kesempatan kerja, kesempatan memperoleh pendidikan, kesehatan dan lain-lain.  Hal tersebut tidak terjadi yang terjadi malah segilitir orang mengejar kentingannya sendiri.
Read more »

Jumat, 02 November 2012

Pikiran senjataKu



Aku hidup dalam penderitaan
Aku hidup dalam tekanan
Aku hidup dalam kebosanan
Aku hidup dalam kebencian
Aku hidup dalam dunia yang serba salah
Read more »

Selasa, 30 Oktober 2012

Transmigran Bebas Mengurus KTP, Mengancam Eksistensi Orang Papua

Foto Pemukiman transmigran di  Suaby, Wasior, Papua.

Yakobus Dogomo*)

Kita ketahui bahwa sejak tahun 1961-an para transmigran didatangkan  ke Papua yaitu: Arso, Koya, Nimboggran,Taja, Lereh Merauke,Nabire, Manokwari, Sorong. Tansmigran ini  menguasai  pelosok papua. Lahan-lahan kosong digunakan  untuk membangun rumahnya para transmigran.  Oleh karena itu, mengancam eksistensi orang asli Papua dan tersingkir dari semua lini kehidupan. Padahal,  di tanah Papua itu milik orang asli papua yang menjadi warisan leluhur orang asli Papua.

Hal tersebut didukung oleh kurang Kontrol  pemerintah Papua terutama dinas Kependudukan dalam membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP), maka transmigran gampan masuk ke Papua. Padahal, orang datang harus untuk mengurus KTP harus ditanya maksud kedatangan ke Papua lalu memberikan KTP.
Read more »

Neles Tebay: Memilih Jalan Damai



        Oleh: Henrikus Cil
     
  Di tanah Jawa, ada seorang tokoh yang sangat menarik untuk dicermati. Dia adalah Mgr. A. Soegijapranata, SJ. Semua keluarganya beragama Islam. Namun hanya Mgr. A. Soegijapranata, SJ yang pindah dan memutuskan untuk menjadi umat Katolik, beliau bahkan menjadi seorang pastor katolik. Terlebih lagi, beliau menjadi Uskup pribumi pertama di Indonesia pada masa penjajahan.

        Walupun telah menjadi seorang penganut agama katolik, Mgr. A. Soegijapranata,SJ tetap berpegang teguh pada filosfi Jawa yang telah diterima dari orang tua dan lingkungan tempat tinggalnya saat masih kecil. Malah setelah beliau menjadi pastor dan uskup, ia banyak mendidik orang Jawa dengan kombinasi ajaran Katolik dan dan filsafat Jawa. Sehingga banyak orang Jawa pada masa itu dapat dengan benar mengimani Tuhan dan menjadi Katolik karena Roh Kekatolikan yang dipupuknya di dada setiap insan.
Read more »

Minggu, 21 Oktober 2012

Makna Pujian

Setiap insan, mulai dari kanak-kanak sampai orang dewasa membutuhkan pujian. Mengapa pujian itu penting? Pujian adalah suatu penegasan bahwa apa yang dilakukan seseorang itu ada artinya. Boleh dikatakan bahwa, salah satu pengalaman paling buruk yang pernah dialami oleh manusia adalah pada saat ia merasa bahwa apa yang dilakukanya sama sekali tidak berguna dan tidak ada artinya. Suatu pujian dapat merangsang orang untuk melakukan lagi apa yang sudah dilakukanya, dengan cara berulang kali bahkan bisa lebih baik lagi.

Memuji orang lain yang melakukan sesuatu yang baik untuk orang yang kita puji. Mengapa? Karena dia akan mendapat penegasan bahwa perbuatanya itu bermakna bagi sesama dan mendapat dorongan untuk melakukannya lagi. Dengan memuji orang lain kita diajari untuk terbuka bahwa ternyata kebaikan dan orang baik ada di mana-mana. Secara tidak langsug juga kita diajar untuk rendah hati, tidak hanya diri kita saja yang mampu melakukan kebaikan, orang lain pun mampu melakukan hal itu. O_C
Read more »

Rabu, 10 Oktober 2012

FOKMAPA STPMD “APMD” Gelar Pelantikan BPH: Wadah Untuk Belajar Mengembangkan Diri

Kegitan Pelantikan BPH FOKMAPA @Agus

Yogyakarta- Forum Komunikasi Mahasiswa Papua Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa, mengelar kegiatan pelantikan Badan Pengurus Harian, di Ruang Seminar Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa. Kegiatan Pelantikan di laksanakan pada tanggal (10/09), di mulai pukul 02:00 WIB hingga selesai. Kegiatan di hadiri oleh 68 Mahasiswa Papua  yang sedang menganyam pendidikan di Kampus APMD, perwakilan dari  sesepuh Mahasiswa Papua  dan beberapa Dosen  serta Ketua STPMD “APMD” ini telah berjalan dengan lancar.
Read more »

Sabtu, 06 Oktober 2012

Kisah Cinta Lelaki Tua dan Gadis yang Malang

Dahulu kala ada seorang lelaki tua hidup sendirian di suatu wilayah yang penduduknya sangat jarang. Pada suatu hari lelaki tua mendengarkan kicauan burung Wiguwi yang menyampaikan pesan bahwa “woo yuwe woo tapa wiiyato” yang artinya pesta adat suku mee yang disebut dengan Yuwo akan dilaksanan dua hari kedepan. Sebelum barangkat untuk menyaksikan pesta Yuwo, lelaki tua itu menyiapkan  perlengkapan berupa busur dan anak panah.
Lelaki tua itu berangkat sehari sebelum pesta adat dilaksanakan. Setelah melakukan perjalanan yang panjang, tibalah lelaki tua  itu pada tempat dilaksanakan Yuwo. Lelaki tua tersebut langsung menuju ke tempat berdansa yang benama Emaida (Bahasa Mee- Papua). Setelah beberapa jam berlalu, datanglah seorang gadis “megetuatai yagamo“ yang artinya gadis yang suka memilih-milih laki-laki. Ketika mereka mulai berdansa pandangan mata gadis itu,  selalu tertujuh pada lelaki tua tersebut. 
Gadis itu pun tertarik dan jatuh cinta lelaki tua itu, karena di mata gadis itu kakek tua itu terlihat sebagai lelaki yang sangat tampan di antara ratusan laki-laki yang sedang berdansa bersama di rumah dansa (Emaa).

Keesokan harinya pesta yuwoo mulai, lelaki tua itu membeli daging babi yang sedang dijual, lalu memberikan kepada gadis itu untuk disimpan pada Noken (tas asli suku Mee) yang dibawa gadis  tersebut. Setalah itu  lelaki tua itu mengajak gadis tersebut untuk pulang ke rumah milik lelaki tua itu, namun di pertengahan jalan lelaki tua itu mengatakan bahwa “ Saya mau cari sayur paku untuk kita barapen babi itu. Kamu pergi ikuti jalan ini ke rumah yang ada di ujung sana itu karena itu rumah saya, jangan takut langsung masuk saja".

Gadis itu pun pergi dan berjalan sesuai yang diperintahakan oleh lelaki tua tersebut. Setibanya di rumah  yang berada di tengah hutan, ia langsung masuk ke dalam rumah tersebut.  Gadis itu, melihat kesebelah ada seorang leleki tua yang umurnya diperkirakan 100-an tahun, sedang duduk asyik dan mengisap rokok dengan mengeluarkan segumpul asap dari mulutnya. 
 
Sejak awal gadis tersebut  masuk ke rumah, pandangannya selalu dialihkan ke arah pintu. Ia menanti kedatangan sang kekasihnya yang tadi berjanji pergi untuk mecari sayur paku. Suara Jangkrik pun berbunyi, menandakan hari mulai malam. Lelaki tua yang diperkirakan 100-an tahun itu pun menutup pintu rumah tersebut.
Lalu gadis itu bertanya pada lelaki tua itu "Anakmu belum datang?". Jawab lelaki tua itu, ‘’Tunggu siapa lagi, mari daging babi yang tadi saya beli itu supaya kita barapen’’.
Gadis itu kaget dan berlari pergi meninggalkan lelaki tua itu, tetapi tiba-tiba jalannya tertutup dengan tembok batu. Oleh karena itu, gadis itu terjebak dan tak bisa jalan kemana-mana. Tembok itu tidak juga terbuka selama satu minggu, air mata pun banjir membasahi pipi gadis itu tiada hentinya. 
 
Akhirnya gadis itu merasa lelah menunggu tembok itu terbuka maka ia menanyakan pada lelaki tua, katanya “ Apa nama tembok yang menutupi jalan itu? ” jawab lelaki tua itu, " kouko imoumi mogo imotou mogo kodoko amadi". artiya "Itu tembok kehidupan dan keselamatan".. Lalu gadis terdiam dan merenung setelah beberapa menit gadis itu menyanyikan sebuah nyanyian tradisional [Gowai: Bahasa Mee]:

Edoupeu…
egaipeu adama kiima…
umeetai kouko odooo danino beh daniino…
kouwaiko imoumi mogo
imotou mogo wouto kouya…
woopi naatita…
amopi naatita…

Yang artinya

Ku tak mau hidup dengan lelaki tua ini
Ku tak mau hidup dengan lelaki tua yang jelek ini
Andaikan seseorang membawa aku kesebelah
Tembok kehidupan dan keselamatan ini
Ku tak mau kembali lagi

Setalah mendengarkan nyanyaian gowai tersebut dari gadis itu dan Lelaki Tua itu pun membalas dengan sebuah nyanyian gawai:

apiii………..-apiii………….
uwoh manaa meime kati…………..
piyaa manaa meime kati……………
keiwaiko imoumi mogo
imotou mogo watiya kigaa…………
inai mitouya woo abonaii kidiki…….

Yang artinya:

sayang……….-sayang…………
Jika engkau pergi dariku
Ku suruh siapa untuk timbah air
Dan ku suruh siapa untuk cari kayu bakar
Tinggallah bersamaku untuk selamanya…

Setelah itu gadis itu masuk kembali ke dalam rumah lelaki tua itu.  Gadis itu terpaksa memilih tinggal bersama lelaki tua itu selamanya, karena  tidak bisa pergi kemana-mana lagi , akhirnya mereka berdua menikah dan memulai hidup baru sebagai sepasang suami istri.

Cerita dongeng ini berpesan kepada kita semua khususnya pada kaum mudah bahwa, jika kita tertarik pada seseorang jangan dilihat dari harta dan wajah (tampang luar) saja, karena 
tampang luar tidak menjamin hidup kita akan bahagia justru dapat menipu dan hidup kita akan kacau, menderita, dan menyesal seperti dongeng diatas ini, tetapi jika kau mencintai seseorang lihatlah ketulusan hatinya untuk mencintai dengan tulus maka hidup kita akan dipenuhi dengan kebahagiaan. [Mikael Tekege]

Yogyakarta, 6 Oktober 2012.

Read more »

Selasa, 19 Juni 2012

Menjadi Guru Tidak Harus Sarjana Pendidikan

          Saat ini kalimat “PAPUA membutuhkan guru” sedang berkembang dan menjadi tranding topick. Kita dapat melihatnya di beberapa website komersial maupun pribadi atau kita dapat mendengar dari perkataan orang yang memang peka terhadap masalah yang terjadi di Papua saat ini khusunya problem di bidang pendidikan. Saya sendiri menyetujui kalimat itu bahwa memang Papua membutuhkan guru padahal  Majalah Selangkah menuliskan bahwa menurut data Dinas Pendidikan Provinsi Papua, saat ini Papua mengalami kelebihan guru yaitu SD kelebihan 3.313 orang, SMP kelebihan 357 orang, SMA kelebihan 402 orang, SMK kelebihan 109 orang guru,  kecuali guru TK masih kekurangan  254 guru (Majalah Selangkah; No 15 Tahun IX, Mei-Juni 2012; halaman 19 oleh Yulianus Kuayo; 56 % Usia Sekolah (0-19)di Papua Masih Belum Terlayani Pendidikan). Tapi kemana semua guru yang sudah didata tersebut, sampai orang menilai bahwa Papua membutuhkan guru?. Ini adalah masalah yang dihadapi kita bersama khususnya di Papua.
Terus terang, saya merasa senang melihat dan mendengar beberapa orang dari kalangan mahasiswa asli Papua membahas masalah kekurangan guru merupakan salah satu masalah yang serius di Papua. Guru yang ideal adalah guru yang mempunyai gelar dan memiliki kualitas dan kuantitas sebagai guru. Tetapi dengan melihat kondisi Papua saat ini saya mempunyai pemikiran tersendiri mengenai pola pikir orang lain tentang yang menjadi guru harus bergelar S.Pd. Saya berpikir bahwa  tidak harus lulusan S.Pd tapi SE, SH, ST, S.Farm, S.IP, S.Sos, S.S, S.Psik, SK, M. Kes, MM, MA, Dr, dr, Ir, Prof, Ex. Kuliah(pernah kuliah), Ex. SMA (Pernah SMA), atau S yang lainya, jika kita merasa Papua dan mengetahui bahwa Papua sangat membutuhkan guru, silahkan berkarya karena menjadi  guru tidak harus S.Pd. Semua orang yang punya keprihatinan dan mau bekerja dengan hati serta mau berkarya dengan sungguh-sungguh dialah Guru sejati. Karena belum tentu orang yang bergelar S.Pd  akan mengajar dengan hati yang murni dan membangun. Sekarang tantangan bagi S.Pd adalah apakah sudah menjadi guru yang benar-benar guru ataukah hanya sebatas gelar S.Pd saja. Metode mengajar yang tepat dan bekerja dengan hati untuk membangun dialah yang berkualitas untuk menjadi guru sejati khususnya di Papua. Anak-anak Papua tidak butuh banyak teori tapi sedikit teori dan banyak praktek. Apa yang kamu punya berikanlah kepada mereka yang membutuhkan. Tidak perlu banyak, karena sekecil apapun sumbangan kita itu sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan walaupun hanya mengajar baca, tulis, menghitung, menyanyi, dan memberikan motivasi untuk berkembang dan mandiri. Saya tidak mengajak semua sarjana menjadi guru tapi harapanya ini bisa menjadi refleksi kita bersama. Mari kita bersama bangun dan tingkatkan manusia Papua yang lebih baik dengan cara kita jika memang kalimat “Papua membutuhkan guru” juga menjadi keprihatinanmu.
Hm....cukup berat sekali bagi saya untuk merefleksikan ini, tapi pasti kita masing-masing memiliki jawaban terbaik. Salam juang. WagaOc
Paingan, 20/06/2012 4:11 P.M

Link:  http://wagaoc.blogspot.com/2012/06/menjadi-guru-tidak-harus-sarja.html
Read more »

Senin, 11 Juni 2012

Mahasiswa Papua Menuntut Segera Tarik Militer dari Tanah Papua


Yogyakarta-  Seluruh Mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua Yogyakarta dan Solo melaksanakan aksi long march untuk menanggapi masalah pelaggaran Hak Asasi Manusia  yang terjadi secara rentetan di tanah Papua selama dua  bulan terakhir ini, antara bulan  Mei-Juni yang  dilakukan oleh TNI dan Polri. Pada hari Senin, (11/06).

Aksi long march yang  di mulai  pukul 10:00-14: 00 WIB, mahasiswa papua menuntut secara tegas kepada pemerintah Indonesia  agar  tidak terjadi pelanggaran HAM lagi maka, segera menarik militer organik maupun non organik dari seluruh tanah Papua. Dan segera bubarkan Batalion 753 Nabire dan Batalion 756 di Wamena, serta Kodam dari seluruh tanah Papua. 

Aksi long march  yang  star awalnya dari Asrama Papua, Kamasan I Yogyakarta menuju titik nol kilometer juga menuntut untuk segera tutup penambangan Ilegal di Degeiwo dan seluruh perusahan asing di tanah Papua. Karena penambangan yang dilakukan itu secara ilegal dan untuk mengamankan hal tersebut pihak keamanan telah membunuh  banyak masyarakat sipil Papua dan melakukan bisnis militer.

Dalam aksi kali ini juga, mahasiswa Papua menuntut untuk membuka  ruang demokrasi seluas-luasnya bagi rakyat Papua dan seluruh tanah Papua.  Aksi long march telah berjalan lancar dan seluruh rangkaian  aksi ini telah di tutup dengan doa oleh seorang perempuan Papua.  Ado.dt

Read more »

Minggu, 03 Juni 2012

Mahasiswa Papua yang Merindukan Kekompakan Dalam Berorganisasi

Banyak mahasiswa dan mahasiswi papua yang kehilangan arah melangka. Arah melangka yang dimaksud adalah dalam hal  berorganisasi. Karena  banyak  mahasiswa yang tidak beminat untuk mengikuti organisasi padahal, dalam organisasi kita  bisa belajar banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana kita membangun kekompakan dalam organisasi itu. Walaupun mahasiswa  banyak  kesibukan.  Badan Pengurus harian harus bisa merangkul anggotanya karana  itu merupakan tugas dan tanggunnya. Tetapi akhir-akhir ini saya mengamati BPH  sibuk sendiri dan malas tahu dengan tanggung jawabnya.   Oleh karena itu berdampak pada  program kerjanya yang tidak berjalan sesuai. Lalu anggotanya juga malas tahu dengan keadaan tersebut.
Read more »

Kamis, 31 Mei 2012

Perayaan HUT Ke-XIV AMP: Indonesia Menjajah Papua

 
Yogyakarta-  Aliansi Mahasiswa Papua merayakan hari ulang tahun yang ke-XIV  di Asrama Papua, Kamasan I Yogyakrta. Perayaan ini dilaksanakan di laksanakan pada hari Rabu (05/30) mulai pukul 10:00 -19:00 WIB dan kegiatan di hadiri oleh mahasiswa Se-Jawa dan Bali. Sebelum kegiatan dimulai seluruh mahasiswa sudah hadir untuk mengikuti kegiatan perayaan HUT sekaligus seminar sehari yang di adakan oleh Aliansi Mahasiswa Papua.

Kegiatan pertama Perayaan HUT Ke-XIV AMP yang  telah mengangankat Thema “ Bersama Kebenaran Sejarah, Kita Melangkah Menuju Kemerdekaan”  dan Sub Thema: “ Dengan Semangat Hari Ulang Tahun ke- XIV Aliansi Mahasiswa Papua Kita Pertegas Pejuangan Rakyat dan Bangsa Papua” . Dalam kegiatan ini Pembawa acara telah memberikan kesempatan kepada para hadirin untuk menyampaikan orasi politik bebas. Entah puisi, lagu, dan lain-lain.

Kegiatan kedua yaitu, seminar se-hari yang menghadirkan pembicara-pembicara yang terkenal diantaranya: Pdt. Socrates Sofyan Yoman sebagai Tokoh masyarakat Papua, membawahkan materi tentang “Belanda Menjajah di Indonesia, Spanyol di  Filipina; Indonesia di Papua”.  Dalam membawahkan materi Yoman mengatakan bahwa  Papua sedang dijajah oleh Indoensia karena telah memanipulasi sejarah Papua, Indonesia menjajah orang Papua dengan mengatakan bahwa orang Papua adalah Siparatis, Makar, OPM, GPP paradigma ini yang dibagun untuk menghabiskan orang Papua di tanah leluhurnya sendiri. Semua opini di bagun melalui media massa  elektronik maupun media masa cetak oleh pemerintah Indonesia.

Selain membagun opini keliru  ini dimedia massa perimerintah pun membangun opini keliru tersebut di berbagai aspek  di Papua yaitu; aspek  pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan aspek agama. Contoh aspek agama yaitu, pertama kali orang  luar masuk ke Papua dan membakar semua atribut  adat orang asli papua dan mengatakan bahwa agama ini yang lebih benar daripada adapt-istiadat. Oleh karena itu, banyak agamawan yang mengatakan bahwa pemerintah adalah wakil Allah tetapi menurut Pdt. Socrates mereka adalah penjajah dengan membuat kebijakan yang tidak mensejahteraankan masyarakat Papua.

Lanjut Pdt. Socrates semua kebijakan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia ke Orang Papua yaitu; penjajahan halus yang dilancarkan dan itu merupakan program intelejen untuk menghabiskan satu  bangsa yang ada di dunia yaitu; bangsa Papua. Alasanya sederhana namun tepat dengan otonomi khusus menciptakan masyarakat Papua budaya malas, dengan pemekaran  mengkotak-kotakan orang papua yang awalnya satu. Disimpulkan bahwa Indonesia menjajah Papua yang merupakan satu bangsa di dunia yang memunyai hak untuk hidup.

Dr. George Junus Aditjondro sebagai cendikiawan Indonesia dan Cendikiawan Katolik, membawakan materi tentang “ Papua dalam Imajinasi Indonesia”  dalam materinya  George Junus Aditjondro mangatakan bahwa perjuangan orang Papua sudah ada sejak tahun 1960 an. Oleh karena itu, mengapa Orang Indonesia susah memahami aspirasi orang Papua untuk merdeka. Pernyataan itu dikatakan dengan alasan bahwa banyak orang yang memperjuangan hak-hak menentukan nasib sendiri harus gugur di bahwa sepatu laras tentara Indonesia.  Contohnya yang di sebutkan dalam materi ini di antaranya; Budayawan Arnold Ap, Theys Hiyo Eluway, dan Thomas Wanggai.

Lanjut Adijondro sebagai cenkiawan Indonesia ini bahwa Indonesia sendiri diakui kemerdekaannya pada tanggal  17 Agustus [ versi RI], 27 Desember 1949 [Versi KMB]. Setelah itu Ir. Sukarno membuat sejarah Indonesia versi Sukarno yang banyak manipulasi sejarah. Buku pendidikan sejarah itu semuanya tidak betul tandasnya ketika menyampaikan materi. Olah karena itu, kalau bangsa Indonesia mau memahami sejarahnya maka harus menulis kembali sejarahnya dengan baik dan menyeluruh.

Pendidikan saejarah yang keliru membuat Sukarno dan kawan-kawannya mengklaim papua masuk kedalam NKRI pada tanggal 19 Desember 1960 dengan membangun opini keliru bahwa Papua pernah di kuasai oleh kerajaan Majapahit. Padahal itu hanya mitos yang di bangun oleh Negara Indonesia ini untuk meyakinkan orang Papua melalui oponi publik padahal itu semua keliru. Karena,  Negara ini pintar membagun opini yang seharusnya tidak benar.

Sedangkan Rinto Kogoya sebagai ketua umum Aliansi Mahasiswa Papua  membawakan materi tentang “Peran Sejarah  Mahasiswa Papua dalam Perjuangan Hak Menentukan Nasib Sendiri”  membahas bagaiman perjuangan mahasiwa Papua dari awal perjuangan hingga saat ini. Peran mahasiswa untuk memperjuangan kemerdakaan Bangsa Papua barat harus di pertegas. Dan perjuangan kita yaitu, bagaimana menjadi mahasiswa yang kritis untuk membangun kesadaran akan mesalah-masalah yang sedang terjadi di tanah air Papua. Karena kita sekarang sedang di jajah oleh Indonesia.

Jadi, menyambung pembicaran dari dua pemateri awal  bahwa Pemerintah Indonesia telah membangun opini yang tidak betul. melalui berbagai cara untuk menghancurkan suku bangsa Papua yang harus hidup di dunia ini, maka mari kita lawan. Kesimpulan dari ketiga materi yaitu Indonesia sedang Menjajah Papua.

Kegiatan yang ketiga yaitu; sebagai umat Kristiani yang menghuni jagat raya ini maka patut mengucap syukur.  Perayaan HUT Ke-XIV ini ditutup dengan Ibadah ini dipimpin oleh Pendeta  dan acara makan-makan yang  makanannya dimasak sesuai  khas Papua yaitu. Barapen. Ado.dt
Read more »

Senin, 28 Mei 2012

FOKMAPA STPMD “APMD” Mengelar Mubes Perdana


Foto pada saat Mubes
Yogyakarta-  Forum Komunikasi Mahasiswa Papua  Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” mengelar musyawarah besar perdana di Ruang Seminar Kampus STPMD “ APMD” Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa Papua yang sedang menganyam pendidikan kampus APMD. Kegiatan di mulai pada pukul 09:00 -19:00 WIB  pada  (05/ 27)
  
Kegiatan musyawarah bersar digelar agar mahasiswa Papua di kampus STPMD “ APMD” harus memunyai wadah yang tepat untuk  merangkul semua mahasiswa Papua karena mayoritas di kampus ini adalah berasal dari Papua. Wadah ini juga  dibuat untuk meperlancar urusan akdemik di kampus khususnya mahasiswa Papua. Harapan yaitu wadah ini bisa menjadi tempat untuk mengambangkan krektivitas kita sebagai mahasiswa. Ungkap Angky sebagai ketua badan Formatur kepada media Iyoo/Ihoo.



Dalam kegiatan yang telah dilakukan dalam acara ini, yaitu pembahasan Tata Tertib, pembahasan AD/ ART pembahasan GBHO dan GBHK, setelah itu di bagi dalam pembagian dan untuk membahas mengenai beberapa hal diantarannya: arti logo, Program Kerja, yang masukan-masukan buat BPH yang akan terpilih.


Bakal calon yang mendaftar sesuai dengan formolir yang diedarkan oleh TIM Formatur  diantaranya Frangky  Abuuryaan  dan Ruben C. Frasa. Setelah melakukan proses pemilihan secara demokratis dan rahasia dengan perhitungan suara maka yang terpilih menjadi ketua adalah Frangky  Abuuryaan  dan Ruben C. Frasa  sebagai wakil. Sambutan dari ketua terpilih bahwa organisasi merupakan wadah baru untuk mahasiswa Papua di kampus ini, maka di harapkan kerja sama semua anggota untuk mengembangkan krekativitas kami dari kajian Ilmiah, Kesenian, dan lain-lain yang terpendam selama ini.


Semua kegiatan mubes ini ditutup dengan doa penutup oleh Edison salah satu mahasiswa Papua Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa Yogyakarta.  Ado.dt
Read more »

Rabu, 23 Mei 2012

Siapa Mampu Bertahan Akan Menguasai


Ini adalah sepenggal cerita pengalaman saya di Pringwulung  Kota Yogyakarta sering di kenal orang sebagai kota pendidikan, pada  tahun 2009 silam. Pada waktu itu, saya dan lima orang kakak yang semuanya adalah laki-laki, mencari tempat untuk makan malam bersama. Kami berkunjung ke beberapa tempat makan yang terletak di kompleks Pringwulung tetapi hampir semua tempat yang kami datangi telah dipenuhi oleh pengunjung, yang juga bertujuan untuk mencari makan malam. Kami hampir saja putus asa dan hendak meninggalkan Pringwulung untuk mencari makan malam di tempat lain.

Sewaktu kami berunding untuk menetukan tempat makan malam, datanglah seorang kakak laki-laki dan mendekati kami. Namanya Pit (samaran), ia adalah kakak laki-laki saya yang telah berjanji untuk menyusul kami, karena dia ada keperluan lain. Sesampainya di dekat kami, dan  bertanya kepada kami. Katanya” Kalian mau makan di mana?”.

Jawab salah seorang diantara kami yang bernama Hero (nama samaran)” Ado...kakak, itu yang buat kami pusing ni. Macam semua  tempat full jadi,  kita mo pigi cari tempat lain. Dengan nada suara penyesalan. Lalu  Hero bertanya lagi  “Kakak ada ide tempat makan  di bagian sini ka?”.

 “ A.... ini ada Burjo ni!”.  Jawab kakak  Pit sambil menunjuk ke arah Burjo.  (Burjo adalah sebutan untuk tempat makan yang tersedia bubur kacang hijau di Kota Yogyakarta yang sering di kenal dengan sebutan  kota Gudeg)

Jawab kakak Hero “ Ado kakak.... Burjo depan full dengan orang-orang, dorang makan sambil nonton bola. Membalas jawaban dari kaka Pit.

Sahut kakak Pit lagi disertai senyuman dan gurauan khasnya “ Sudah mari kita makan, kita ni banyak orang, kita ada 7 orang  nada ajakannya!. Lanjutnya, nanti  kita masuk dan bikin ribut didalam burjo. Walaupun mereka ada nonton bola acara pavorit  mereka tapi lama-lama kalo mereka tidak mampu bertahan dan  mereka akan bergeser keluar karena keributan kita”
.
“Ah... betul kakak, kita coba dulu” sahut salah seorang dari kami. Dan semuanya megiyakan apa yang dikatakan itu.

Setelah percakapan itu usai, kamipun segera  memasuki Burjo tersebut. Kami masing-masing memesan makanan dan minuman sesuai dengan selera. Satu orang dari kami mulai mengeluarkan cerita lucu dengan maksud memancing yang lainya, lalu semuanya tertawa dengan keras dan ada yang  membalas dengan suara yang keras pula. Ketika cerita lucu yang dikeluarkan kami semua mulai tertawa terbahak-bahak (tertawa khas orang Papua) sehingga suasana di dalam Burjo menjadi bising karena ulah kami yang disengajai. Tetapi intinya seru...

Tak lama kemudian  satu per satu pengunjung mulai maninggalkan Burjo dengan sendirinya. Hingga kami tidak menyadari bahwa pengunjung di Burjo hanya tersisa rombongan kami saja.

“Ternyata siapa yang mampu bertahan, dia yang akam menguasai” Sahut kakak Pit ditengah-tengah candaan kami yang mendalam itu.

“Hm....m”, “iyo...e”, “ae....betul”, “ ado kakak betul...” itulah beberapa jawaban reflek yang keluar dari mulut kami masing-masing sembari mata kami mengawasi situasi di dalam Burjo yang ternyata benar bahwa semua pengunjung telah  pergi meninggalkan Burjo.

Itulah sepenggal pengalamanku bersama kakak Pit. Semenjak kejadian itu, saya mulai merenungkan arti dari kalimat “siapa yang mampu bertahan yang akan berkuasa”. Saya mencoba untuk membawa kalimat tersebut untuk mengartikan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Kata “berkuasa” bukan hanya diartikan pada orang yang memimpin  atau memerintah orang lain, tetapi bisa  juga  diartikan sebagai suatu keberhasilan seseorang. Dikatakan berhasil ketika tujuan yang ingin dicapai sudah tercapai dengan efektif dan efisien. Ternyata ada benarnya juga bahwa siapa  yang mampu bertahan yang akan mempimpin,  siapa yang mampu bertahan yang akan berhasil, dan siapa  yang mampu bertahan yang mempunyai harapan hidup untuk mewujudkan mimpi atau cita-cita dalam hidupnya.

Victor Frankl, seorang psikolog aliran humanistik berpendapat bahwa seorang yang mampu bertahan dengan keadaanya atau situasi sulit saat ini yang memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang. Ketika kita dapat mencari jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi saat ini dengan cara melakukan berbagai macam usaha untuk keluar dari kesulitan tersebut, maka kita akan mampu bertahan hidup untuk mecapai sesuatu yang kita cita-citakan bukan menyerah pada situasi sulit dan menarik diri dari kesulitan yang ada.

Ketika kita berpikir untuk mendapatkan sesuatu dan setiap usaha sudah kita lakukan tetapi belum berhasil maka  kita harus  tetap berusaha bertahan dengna mencari solusi lain. Dimana saat itulah,  setengah keberhasilan sudah ada ditangan kita. Lebih baik kita yang berpikir dan bertindak untuk mengubah situasi atau keadaan yang sulit ini,  daripada kita berpasrah  pada  keadaan atau situasi  yang dibuat oleh manusia. Tetapi kita yang mengendalikan keadaan  bukan keadaan yang mengendalikan kita.  Kiranya beberapa hal ini dapat menjadi tolak ukur bagi kita untuk menilai setiap pekerjaan kita dalam rangka mencapai tujuan yang sudah diperkirakan sebelumnya. Karena pada hakekatnya manusia hidup di jagat raya ini memunyai tujuan. Oleh karena itu, kita dapat bertanya pada diri kita sendiri, seberapa besar kita bertahan dalam setiap pekerjaan kita untuk mencapai keberhasilan?

Seberapa banyak usaha-usaha yang kita lakukan untuk keluar dari situasi sulit yang sedang kita hadapai? Yakinlah bahwa kita masing-masing pribadi memiliki kemampuan untuk dapat bertahan hidup dalam keadaan apapaun asalkan kita mau untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk keluar dari masalah yang kita hadapi dan merealisasikanya dalam hidup kita. Baik atau buruk tetaplah bertahan. Dari cerita diatas  ada tiga hal penting   yaitu; Pertama Kesadaran, kedua; keyakinan, ketiga; Komitmen.  Waga Oc.

Wonosari, 28 Maret 2012 9:28 PM
Read more »

Sabtu, 19 Mei 2012

IPMADO JOGLO Mengadakan Perayaan Paskah

Jogjakarta -Perayaan Paskah merupakan hari bersejara bagi umat Kristen dibelahan dunia ini karena  merayakat kisah sengsara, wafat dan bangkit Yesus Juruselamat manusia. Kematian-Nya telah menyelamatkann kita dari perbudakan dosa. Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai Jogjakarta dan Solo juga merupakan  bagian dari umat kristiani di belahan dunia ini maka telah merayakan hari paskah pada Sabtu (05/19),di Kontrakan Dogiyai (Emaawaa) dan memulai acara pada pukul 15:15 WIP hingga selesai. Acara paskah ini dihadiri oleh mahasiswa Papua yang beromisili di Jogjakarta.

Acara paskah Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai Jogjakarta dan Solo ini dipimpin oleh Pdt. Rehabiyam Bilung SH.Th.M. Sebelum masuk kepada renungan adapula kesaksian yang di sampaikan oleh mahasiswa yang hadir di kegitan paskah. Thema yang diangkat dari panitia pelaksana Paskah tahun 2012 adalah “Mengikut Yesus Keputusanku”, dalam kitab injil Yohanes 21:19.

 Sehingga dalam renungannya beliau mengawali dengan ada beberapa pertanyaan yang dapat di jawab dengan keyakinan dari hati lubuk yang paling dalam,antaranya: 1. Mengapa kita mengambil keputusan untuk mengikut Yesus. 2. Apa alasannya. Lalu beliau mengabil contoh konkrit atau realita yang sedang terjadi.Pertama   dari segi historis, Bahwa, pelukis sejarawan, orang besar/oang yang sukses, bahkan penemu-penemu didunia ini semua karena mereka mengikut Yesus. lalu kedua dari segi erah modernisasi dan globalisasi yang persaingan yang sangat ketat ini, bahwa kekayaan dan ekonomi yang hebat dan paling kaiya yang sedang bersaing di dunia ini diantaanya, Amerika,Jepang dan China. Mengapa mereka hebat dan kaiya karena karir maupun produktifitas mereka hanya berdasarkan pada Tuhan Yesus yang mereka percaya. Kata beliau kepada media ini.

  Dari renungan di atas disimpulkan bahwa ada dua point yaitu; pertama; Mengapa kita harus mengikut yesus. Kedua; Gembalakanlah domba – dombaKu  Sebagaimana Tuhan Yesus mengasihi kita,kitapun harus mengasihi sesama kita,dan memberikan yang terbaik kepada siapapun dia. Mengasihi adalah memindakan maanfaat hidup kepada oang lain. Semua oang perlu menghagai dan menghormati. Maka dari itu sebagai kesimpulan beliau mengatakan, tidak sedikit oang mengatakan bahwa mengikut Yesus itu tidak popular,tetapi sodara mau populer buat keputusan hari ini. Dan anda jangan lupakan sejarah  ini .kata beliau kepada media ini.

Adapun sambutan yang di bawakan oleh Ketua Panitia Paskah Jerry Dogomo  sebagai panitia, di setelah itu Badan Pengurus Harian Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai, Mewakili Wissel Meren  dan Senoritas  Dogiyai.

Setelah sambutan,  semua rangkaian kergiatan paskah 2012 IPMADO JogLo  telah ditutup dengan doa penutup oleh Yakonias Adii salah satu mahasiswa asal Kabupaten Dogiyai yang tinggal Jogjakarta. Sepanya W. Tebay
Read more »

Jumat, 18 Mei 2012

Beda Buku Cermin Noken Papua : Melestarikan Budaya Papua Melalui Noken


Jogjakarta – beda  buku  yang berjudul “Cermin Noken Papua: Perspektif Kearifan Mata Budaya Papua”  ditulis oleh Titus Pekei, penerbit Ecology Papua Institut  EPI  telah dilaksanakan di Asrama Kamasan I  Yogyakarta pada Kamis (05/17). Acara beda buku mulai pukul 11: 00 WIB hingga selesai, dan  hadiri oleh mahasiswa Papua yang berdomsili di Jogjakarta.

Buku Cermin  Noken Papua pertama di terbitkan pada tahun 2011 dan setelah rirevisi di terbitkan pada tahun 2012. Beda buku sudah dilakukan di beberapa kota yaitu, Jakarta,  Bali, dan kali ini dilaksanakan di Jogjakarta. Selanjutnya beda buku akan  di laksanakan  seluruh Papua, dari Sorong sampai  Merauke. Sekaligus  melakukan  wawancara  langsung  dengan masyarakat setempat, Dari tokoh adat, kepala suku, dan juga dari hasil diskusi mahasiswa. ungkap Titus Pekei kepada media Iyoo/Ihoo.

Hal ini penting dilaksanakan  beda buku ini, karena  berfikir lebih jauh tentang noken Papua. Noken dilihat dari banyak  segi  yaitu; budaya, ekonomi, sosial, polotik, dan hukum. Noken  memunyai  manfaat bagi orang Papua yang terdiri dari 250 lebih suku.

     Noken sendiri di gunakan untuk  mengisi barang. Sebutan noken disetiap daerah di papua berbeda, misalnya,  “agiya” sebutan dari suku Mee, “Yum” dari suku Wamena, “Ese” dari Asmat, Inokson/inoken dari suku Biak. Uniknya buku ini karena penulis mengambil sebagai contoh dari nama noken dibeberapa daerah.

     Sebenanya  noken ini sangat berbeda dengan  tas maka noken ini jangan samakan dengan tas. Noken tetap menjadi noken, dan tas tetap menjadi tas. Kerana Noken sudah ada dahulu sedangkan tas ini datang melalui modernisasi dan globalisasi. Noken ini lahir dari terapi alam dan budaya, adat Istiadat, dan kreasi dari masyarakat adat papua.

Noken juga menjadi  warisan  Nenek moyang orang Papua , kepada generasi Papua  berikut sebagai bahan yang layak di pakai oleh masyarakat Papua untuk menunjang kebutuhan hidup mereka hal ini di sampaikan langsung oleh penulis kepada mahasiswa Jogjakarta dalam seminar beda buku ini.

Sebagai umat Kristiani  kegiatan beda buku ini di tutup dengan doa yang dipimpin oleh seorang mahasiswi Papua yang sedang menganyam pendidikan di Jogjakarta. Sepanya Tebai
Read more »

Minggu, 18 Maret 2012

FKPMKP D.I.Y Gelar Re-Organisasi

Yogyakarta- Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik Papua Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengelar Re-Organisasi. Sesuai dengan AD/ART bahwa kepengurusan lama telah berakhir masa jabatanya dengan periode 12 Agustus  2010 sampai 12 Februari  2012, dan kepengurusan baru akan dilanjutkan mulai periode 17  Maret  2012  berakhir masa jabatannya 17 Maret  2013, kegiatan ini digelar di Pastoran Mahasiswa Katolik. Jalan Dr. Waidin, No. 54 [3/17], pukul 11:00  sampai 19:00 WIB,  dalam kegiatan Re-Organisasi FKPMKP di hadiri oleh mahasiswa katolik Papua serta simpatisan berdomisi di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Acara Re-Organisasi  FKPMKP Daerah Istimewa Yogyakarta  berjalan lancar sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, dalam acara ini telah dibahas beberapa agenda diantaranya, pertama; sambutan-sambutan dari ketua penitai Re-Organisasi, Senioritas, Ketua BPH Lama, kedua; Pembahasan TATIB, AD/ART, GBHO, ketiga; Laporan pertanggungjawaban Badan Pengurus Harian periode 2010-2012.

Setelah membahas TATIB/ AD/ART, GBHO, dan LPJ BPH lama, agenda keempat; yakni pemilihan Badan Pengurus Harian  Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik Papua Daerah Istimewa Yogyakarta yang baru. Dalam agenda yang ketiga pertama-tama dilakukan pemaparan visi misi ketiga Bakal Calon yaitu, 1. Fransiskus Kasipmabin, 2. Yulita Mate 3. Mery Bame. Pemilihan dilaksanakan dengan cara mufakat antara ketiga bakal calon.  Setelah mufakat antara ketiga bakal calon dan akhirnya, Fransiskus Kasibmabin tepilih menjadi ketua, Yulita Mate sebagai Bendahara, dan Mery Bame sebagai sekertaris.

 Badan pengurus baru yang  terpilih dikukuhkan oleh  Gerald Bidana sebagai perwakilan  seniorita sekaligus orang tua FKPMKP D.I.Y.  Sambutan oleh Ketua terpilih dan sambutan ketua lama. Serah terima jabatan secara simbolis dari ketua BPH lama Agustinus Dogomo kepeda Fransiskus Kasipmabin ketua baru yang terpilih. Sebagai umat kristiani maka semua rangkaian kegiatan Re-Organisasi  telah menutup dengan doa yang dipimpin oleh Garal Bidana sebagai Senioritas Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik Papua Daerah Istimewa Yogyakarta. Ado.dt
Read more »

Selasa, 14 Februari 2012

Waspada Bahaya Laten Rambut Palsu dan Identitas Palsu [Sebuah Renungan Konyol]


Tulisan Orang “Gila”
 Kerena Stress melihat keadaan [ado.dt]

Waspada bahaya Laten [Tersembunyi] Rambut Palsu, dan Identitas Palsu. Judul tulisan ini terinpirasi untuk menulis ketika melihat banyak orang Papua terutama mahasiswa  yang memakai rambut Palsu dan membeli rambut palsu ditempat menjual rambut Palsu. Selain Mahasiswa yang ada di Se-Jawa dan Bali ada Orang Papua yang tinggal di Papuapun mengirim uang ke Jawa untuk membeli rambut Palsu.
Read more »

Selasa, 24 Januari 2012

Bayangan Kolonialisme

Oleh Longginus Pekey*)  
MENURUT Andre Gunder Frank, pendukung teori kolonialisme, hukum kolonial biasanya menguntungkan negara yang koloni dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan bagi modernisasi dan demokrasi.
Bertentangan dengan pendapat di atas, Frantz Fanon peneori ketergantungan, mengemukakan, kolonialisme sebenarnya megarah pada pemindahan kekayaan dari daerah yang koloni ke daerah kolonis yang kesuksesan pengembangan ekonomi. Pendapat Fanon diperkuat  oleh para pengkritik post-kolonialisme yang mengatakan bahwa kolonialisme sangat merusak politik, psikologi, dan moral negara/daerah koloni.

J. Horge Klor de Alva, membenarkan: dalam praktek kolonialisme ”di banyak tempat, penduduk aslinya, boleh dikatakan hampir-hampir lenyap  setelah kontak, disapu secara fisis oleh penyakit dan perlakuan kejam, dan secara genetik dan sosial, oleh perkawinan campuran. Akhirnya, secara kultural oleh praktik-praktik religius dan politis, sebagaimana telah dialami penduduk hitam di benua Afrika,  Indian di Amerika, Aborigin di Australia, Jawa di Nusantara dan Papua di masa Belanda dan Indonesia saat ini.

Pertentangan pendapat di atas itu mau menjelaskan kepada kita mengenai sisi positif dan negatifnya atau baik buruknya kolonialisme. Hal ini perlu kita lihat dari realitas, dari pengalaman sejarah kolonialisme di dunia. Ada orang yang dieksploitasi, dipenjara, dibunuh atau dianiaya.

Penduduk pribumi yang terhegemoni mewarisi budaya, karakter kolonial  karena tidak terhindarkannya asimilasi dan akulturasi. Pendidikan, agama dan, birokrasi menjadi pintu masuk hegemonisasi yang akhirnya merusak karakter dan budaya pribumi, yang dianggap primitif, jorok, kotor oleh “kolonialis.”
Dalam hal ini, mental dan karakter kekerasan yang dulu hanya terjadi di pusat kekuasaan, tak terasa, berpindah dan mengakar di daerah-daerah koloni. Hannah Arendt,  filsuf politik, menyebutnya banalitas kekerasan.

Dengan cara pandang itu, kita amati, kekerasan struktural, seperti pelayanan publik yang pincang, keputusan dan pelaksanaan undang-undang yang sepihak dan tidak kontekstual. Gelar operasi militer (DOM), pelanggaran hak asasi manusia, menjalarnya suap-menyuap dan korupsi elite penguasa di pusat yang menular ke daerah.

Hingga saat ini, penerapan Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua sejak 2002 belum signifikan menyelesiakan masalah sosial. Sebagian besar pribumi Papua masih didera kemiskinan.

Rumah-rumah sakit masih langka di daerah permukiman penduduk pribumi, terutama pelosok dan pedalaman. Kalau ada pusat-pusat kesehatan, hampir bisa dipastikan tenaga medis, obat-obatan, dan fasilitas pengobatan sangat minim. Jumlah orang sakit yang tak tertangani cenderung tidak menurun, begitu pula tingkat kematian.
Di daerah-daerah pedalaman, sekolah-sekolah belum menyebar rata. Di satu kabupaten, misalnya, hanya tersedia satu sampai dua SMP dan satu SMA. Itu pun, dengan guru dan fasilitas belajar sangat terbatas. Belum lagi, keberadaan guru di tempat karena bepergian ke kota. Di sekolah yang baik dan lengkap di kota, siswa pribumi kadang sedikit. Mereka banyak mengisi sekolah-sekolah pinggiran yang berkekurangan.

Dalam situasi begini, arus migrasi ke Papua melaju deras. Semua peluang hidup seperti diserobot. Tak terasa, peluang kerja setempat banyak terebut penduduk migran dari luar Papua. Penduduk pribumi dianggap malas, tidak kreatif, tidak ulet.

Hasilnya, tampak jelas saat ini, terutama di kota-kota, warga Papua semakin minoritas.  Pusat perbelanjaan, bisnis dan perhotelan  kian menjamur. Warga asli Papua hanya menjadi konsumen dan penonton. Mama-mama penjual masih bernasib seperti sebelumnya: tertimpa panas dan hujan. Mereka dapat berjualan hanya di teras pasar  atau di emperan toko. Kenyataan yang menjungkirbalikkan pasal-pasal Undang-Undang No. 21.

Tidak cuma peluang kerja di dinas dan instansi pemerintah yang lepas dari tangan para putra-putri Papua, tapi juga swasta. Papua tak ubahnya sebuah daerah koloni. Sumber : http: suara perempuan papua.org

*) guru sejarah, SMA Adhi Luhur, Nabire




Read more »

Rabu, 04 Januari 2012

Guovadis Pendidikan dan Pembebasan Papua


Oleh:Longginus Pekei*

Selama ini, masalah Papua sulit diselesaikan. Bagaimana tidak, ini sebagai cermin, persoalannya ada dipihak negara Indonesia. Artinya masalah Papua tidak dapat terselesaikan karena, ada masalah dipihak Indonesia, misalnya seperti: pertama; Indonesia negara demokrasi yang masi cacat. Mengembangkan demokrasi   yang tidak sesuai dengan anak adat bangsa Papua. Dampaknya perpecahan horisontal antara anak adat semakin terjadi. Kedua;Indonesia memiliki ribuan penduduk dengan kehidupan melarat dan miskin ( Jakarta, Yogyakarta, Surabaya,  Solo, Semarang, Sumatra, Sumatra, Ambon dll). sehingga papua menjadi tempat sasaran transmigrasi dan emigrasi untuk mengambil tanah dan kekayaan orang Papua. Saat ini sangat terasa.Ketiga; Indonesia Negar hukum oligarkhi yang cacat hukum. Hukum milik penguasa, dan pemilik modal. Orang papua dan pelanggaran HAM Papua tidak melalui hukum sipil melainkan hukum militer yang melindungai dan meringankan para pelaku HAM, Keempat; Indonesia negara yang sara agama: Isalam sedang mendominasi

      Dampaknya terasa hingga ke Papua sebagai salah satu wilayah koloni dari Indonesia yang memberikan sumbangan terbesar bagi penyelesaian masalah kepadatan penduduk dan kemiskinan, misalnya melalui program transmigrasi untuk membuka dan membangun daerah koloni/jajahan. Apapun alasannya; seperti mendidik; membangun; memperbaiki taraf  hidup penduduk asli, tetapi tetap sebagai koloni yang layak bagi Indonesia dijadikan tempat memperbaiki nafka untuk mengatasi masalah sosial ekonomi yaitu kemelaratan dan kemiskinan.

      Orang Papua menuntut HAK Kemerdekaan: Dasar Hak/HAM; Dasar Sejarah; Dasar Identitas budaya. Politik kolonial diperhalus melalui otonimi daeah berkat perjuangan golongan humanis dengan ide perbaikan hidup orang Papua. Tetap saja kondisi kolonis/pendatang mendominasi bersama kelas kelompok elitis kompador penguasa dan pengusaha menguasai politik dan ekonomi di Papua.

      Orang Papua terdidik dalam sistem Pendidikan, Politik pemerintahan yang tidak kritis dan tidak berpihak kepada rakyat Papua. Hasil yang Tampak setelah Bersama Indonesia, pertama; Banyak orang pintar, tetapi kurang kritis dan kurang cerdas memikirkan revolisi, keselamatan dan kejayaan bangsa Papua. kedua; Orang papua yang bisa dibeli dengan harta. Dampak dari beredarnya banyak uang pada masa  Otsus. Tercipta mental uang. ketiga; Semakin terbagangun budaya orang miskin/kebergantngan. keempat; Memikirkan diri sendiri. Kurang memperhitungkan masa depan generasi bangsa. kelima; Berfoya-foya menghabiskan banyak uang dengan acar-acara seremonial besar-besaran. keenam; Orang Papua kehilangan musuh yang harus dilawan bersama. ketujuh;Orang Papua sendiri semakin menjadi penjajah bagi orang Papua. kedelapan;Orang Papua yang kritis dan cerdas dianggap musuh


Dampak dari itu sema, di Papua  ada golongan sebagai berikut:
pertama; Orang Papua yang Ingin Hidup dalam Negara NKRI; memperbaiki nasib perutnya sendiri dan nasip rakyat Papua; jadi kaki tangan Indonesia dengan bayaran uang dan bukan karena kesadaran yang mendasar...mereka rata-rata; para pejabat  yang mementingkan diri dan jabatan, intel dan pembunuh orang Papua yang kritis. kedua; Orang Papua yang tidak memiliki sikap. ketiga; Orang Papua yang berjuang untuk lepas dari NKRI; karena sakit hati dan kecewa; karena sadar akan dasar-dasar kemerdekaan.


Membangun Visi dan Misi Bangsa

Sekarang juga sadarkan diri kita akannya penderitaan bangsa Papua. Membangkitakan gerakan/tergerak dari dalam diri (hati, pikiran dan perasaan). Merubah pola pikir atau paradigma berpikir/mindset dan bergerak cepat secara perorangan dan kelompok. Bepikir mandiri, tidak begantung pada pemeintah. Melakkan kegiatan, untuk membangun solidaritas demi terwujdnya
pertema; Revolusi:  perubahan kehidupan social budaya kearah yang lebih baik. kemerdekaan total , bebas dari kolonialisme, neo kolonialisme dan imperialisme. Dengan kata lain bebas dari bentuk penjajahan Belnda, Indonesia atau penjajahan mana pun, termasuk penjajahan ekonomi oleh perusahan-perusahan asing trans nasional. Suatu masyarakat yang bebas dari penjajhan manusia oleh manusia (a exploracao do homem pelo homem). Untuk itu sistem kekuasaan yang hendak di tegkan adalah “kekuasaan rakyat” bukan kekuasaan raja, kepala suku, kekuasan tuan tanah, atau bukan kekuasaan para pemilik perusahan-perusahan besar baik dalam negeri maupun asing.
kedua; Keselamatan: Bangsa Papua semakin hari semakin sedikit, menuju ke punahan. Terjadi karena pembunuhan secara sistematis maupun melalui kekerasan fisik. Dilakukan oleh kolonialis, neokolonialis dan imperialis untuk merebut daerah-daerah subur dan mineral milik bangsa Papua. Untuk keselamatan bangsa Papua harus melawan para pembunuh dan pemusnah ras bangsa Papua. Berani melawan bangsa Papua yang menjadi antek kolonialisme, neokolonialisme dan imperialisme.
ketiga; Kejayaan: Bangsa Papua memilki manusia yang cerdas dan pintar inofasi dan kreatif dalam segalah bidang kehidupan. Mengakat bangsa Papua kerana internasional. Semua pemikiran di atas itu dicurahkan untuk membangun bangsa dan mengabdi pada bangsa Papua terlepas dari ikatan-ikatan atau pemikiran kolonialis, neo kolonialis dan imperialis.

Misi yang kita kerjakan adalah:
·    Orang Papua menguasai Dunia.
·    Bank Orang Papua yang ke luar dari sistem Indonesia.
·    Orang Papua Menguasai Ekonomi di Tingkat Internasional.
·    Orang Papua Menguasai Ekonomi Di Tanah Papua.
·        Orang Papua Menguasai Pemerintah dan Parlemen di Papua ataupun di luar Papua
·    Mendukung Komunitas Intelektual Papua ke rana Internasional
·    Mendukung Budaya Papua ke rana Internasional


Pendidikan berkarakter adalah satu-satunya jalan untk mencapai visi dan misi di atas. Pendidikan yang melatih siswa berperilaku tegas, disiplin, loyalitas, berdaya jang tinggi, bertindak radikal,  berpihak para rakyat menderita,
pertama; Diri sendiri : setia dan konsisten terus membaca, melihat media informasi, baca situasi hidup social ekonomi, politik dan  mengambil peran dalam revolusi, Keselamatan dan Kejayaan  sesui skill dari kuliah atau kursus. (iman tanpa perbuatan mati).
kedua; Kelompok: Setia dan konsisten dalam kelompok membangun diskusi` bersama atau membangun forum diskusi dalam memandang perkembangan ilmu pengetahuan, mencari jalan untuk mendukung visi di atas. Tidak cukup hanya diskusi harus membangun gerakan bersama untuk memperjuangkan visi di atas. Gerakan dapat dilakukan sesuai bidang dan keahlian kita masing-masing.

Penulis, Ketua Lembaga Pendidikan Papua [LPP],  Tulisan ini  dibahwakan pada saat Natal, Seminar, dan Tahun Baru Mahasiswa IPMAPANADODE se-Jawa dan Bali di Jogjakarta tahun 2011.

Read more »